Kamis, 19 Februari 2009

Repost : Kepergiannya...


"To my beloved Brother...."

Lita, sedang asyik menikmati makan siangnya. Ditemani sang Bunda sambil merajut taplak meja bundar, dan juga Ayah yang sedang menyelesaikan naskah sebuah surat, sebelum keberangkatan beliau ke Cirebon sore nanti.

Tiba-tiba, terdengar bel rumah berbunyi. Tak lama, pak RT terlihat memasuki halaman rumah bersama seorang SATPAM Rumah Sakit!!!

"Eeh Pak RT...Ayo, silahkan masuk...", kata Ayah menyambut hangat. Setelah mengucapkan terima kasih, Pak RT berbicara sangat serius dengan Ayah, suara mereka hampir tak terdengar. Lita masih terus melanjutkan makannya, sampai akhirnya Ayah memanggilnya.

Ayah terlihat sangat pucat, dan dari mata beliau terlihat pancaran yang sangat pilu. Ayah berbisik di telingaku, "Lita, bantu Bunda merapihkan rumah ya..terutama ruang tamu... Ayah harus pergi ke rumah sakit, menjemput Kak Luthfi..."

Tak sempat Lita bertanya, Ayah sudah meninggalkannya. Hati Lita sangat galau, otaknya pun terus berpikir...Kak Luthfi di rumah sakit?? Rasanya, tadi pagi ketika berangkat sekolah, Kak Luthfi baik-baik saja, nggak sakit...

Bersama Bunda, Lita merapikan ruang tamu. Bunda sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi... Bunda hanya diberitahu Ayah bahwa Kak Luthfi sedang dirawat di rumah sakit tempatnya pak Satpam yang tadi datang.

Bunda terlihat sangat galau seperti Lita. Menunggu, memang bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Tak lama, Bunda bangkit dari duduknya, pergi ke kamar beliau. Bunda menunaikan sholat sunnah dua rakaat dan berdoa...

"Tililit...tililit...", suara telpon rumah berbunyi. Bunda mengangkatnya, ternyata Ayah di seberang sana. Bunda terlihat pucat dan lunglai... Lita segera menghampiri Bunda dan menutup telpon. "Kenapa Bunda??" Sambil terbata-bata, Bunda menjawab, "Lita, Ayah bilang, kita harus menyiapkan tempat tidur di ruang tamu..."

Kenapa?? Ada apa?? Lita semakin bingung dan tidak mengerti... Namun begitu, Lita dan Bunda tetap mengerjakan apaa yang Ayah minta. Menunggu, menunggu, dan menunggu... Lita dan Bunda semakin tergugu...

Hari menjelang sore, sudah memasuki ashar. Lita dan Bunda pun mengerjakan sholat ashar. Tak lama, terdengar suara Paman dan Bibi, keluarga Bunda, datang. Tidak biasanya mereka datang berkunjung di hari kerja begini. Mereka langsung memeluk Bunda dan tak berkata satu patah katapun...

Lita bertambah bingung, dan Bunda, terlihat airmata mulai membasahi pipi Bunda...
Lita ikut hanyut dalam air mata Bunda, entah mengapa, tapi hati Lita terasa sangat sedih dan pilu...

Sekitar pukul lima sore, di kejauhan terdengar suara sirine ambulance. Ambulance itu berhenti tepat di depan rumah Lita. Terlihat Ayah turun dari dalam ambulance bersama beberapa orang petugas rumah sakit. Lita semakin penasaran, sementara di luar rumah mulai ramai tetangga berdatangan karena suara sirine ambulance tadi.

Lita berlari ke halaman. Langkahnya terhenti ketika dilihatnya sosok tubuh tak berdaya, terbaring di atas ranjang tempat tidur dorong yang keluar dari dalam ambulance. Kakak!! Kak Luthfi!!!

Ayah memeluk Lita, sementara para petugas terus mendorong sang kakak memasuki rumah. Darah segar masih menetes dari tempat tidur itu... Darah yang mengalir dari kepala Kak Luthfi...Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji'uun...

Bunda tak kuasa menahan tangisnya...Bunda memeluk tubuh Kakak, dan menciumi wajah Kakak... Di sela isak tangisnya, Bunda mengelus wajah Kakak dan berbisik,"Bunda rela kamu pergi nak...Bunda ikhlas..."

Malam itu, keluarga besar Bunda dan Ayah dari luar kota berdatangan. Keesokan harinya, sepanjang jalan menuju rumah sampai di dalam rumah, penuh sesak oleh para pelayat, baik dari keluarga, kerabat, maupun tetangga. Hari itu, sekolah Kakak diliburkan, bahkan dari Yayasan sekolah Kakak khusus datang untuk melayat.

Kak Luthfi, semasa hidupnya, adalah sosok yang disegani dan disenangi di dalam lingkungannya, baik di sekolah maupun tempat tinggal kami. Tidak hanya kalangan muda, tetapi juga kalangan orangtua. Sifat Kak Luthfi yang tidak banyak bicara, selalu siap membantu orang lain, memberikan contoh nyata dalam perbuatannya, dan masih banyak hal lagi dari Kakak yang membuat orang-orang di sekelilingnya sangat mengaguminya...

Di keramaian para pelayat, seorang nenek yang berjalan dengan bungkuk dan agak tertatih-tatih, menghampiri Bunda dan berkata, "Buu, anak Ibu ini, kemarin membantu saya membawakan bawaan saya, dan membantu saya menyeberang jalan... Dia anak yang sangat baiiiik..."
Bunda semakin terharu, dan Lita semakin tak kuasa membendung airmatanya...

Kak...
Lihat dan dengarlah...
Semua orang menyayangimu dan sudah merindukanmu...
Aku, Bunda, Ayah, Paman, Bibi, dan juga orang-orang yang pernah kau sentuh hatinya...

Sayang kami, rindu kami, begitu besar...
Tapi, sayang dan rindu kami takkan pernah bisa menyamai sayang dan rindunya Dia Sang Pemilik...

Pulanglah Kak kepada-Nya...
Dengan bekal yang kau tanam disini...
Ku tahu kau kan memetik buah yang ranum dan harum, seharum namamu...

5 komentar:

Erik mengatakan...

Mengharukan...
Benar.... kepergiannya sangat dirindukan-Nya
Semoga kembali dalam keadaan ridho.

Erik mengatakan...

Ada PR nih mbak, diterima ya

elzenz mengatakan...

Ini kah yang di sebut "pulang untuk kembali" .... Terima kasih Umi, Sangat menyentuh dan Meng-ingatkan kita untuk slalu menanamkan kebaikan disaat masih "bisa" :)

Brigadista mengatakan...

menyentuh sekali ,... jadi terharu

Bang Izz mengatakan...

Jadi teringat kisah Ummu Sulaim & suaminya Abu Thalhah ketika putri mereka wafat. Abu Thalhah baru mengetahui kepergian putrinya pada esok pagi setelah dengan begitu indah Ummu Sulaim menampilkan kebesaran jiwa seorang ibu sekaligus seorang istri yg sholehah. Tapi karena kebesaran jiwa itulah mereka menjadi icon sejarah....

Subhanalloh...
Betapa banyak hal yang baru terasa kehadirannya setelah mereka pergi. Seperti orang-orang baik yang kepergiannya melahirkan hampa...