Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2009

Pemilu di Rantau



Pengalaman baru bagiku mengikuti pemilihan calon pemimpin bangsa di Luar negeri, tepatnya di Tsukuba, Jepang. Berbeda dengan pemilihan di dalam negeri dimana pemilih bisa datang langsung ke tempat pemilihan, saya melakukan pemilihan melalui jasa Pos.

'Surat Cinta' ini sudah saya terima sejak beberapa hari yang lalu. Didalamnya terdapat surat daftar pemilih, lembaran pemilih, lembaran keterangan tatacara memilih, dan juga amplop untuk mengirimkan kembali kepada Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) di Tokyo.

Ada juga beberapa teman yang datang langsung ke lokasi pemilihan di Tokyo, tentunya sesuai dengan kelonggaran waktu mereka. Bagi saya dan Abi, pemilu melalui jasa Pos ini cukup memudahkan dan praktis. Seperti halnya dengan Pemilu secara langsung, semoga Pemilu melalui jasa Pos ini bisa dijamin kerahasiaannya sehingga mampu menciptakan Pemilu yang adil, jujur dan bertanggung jawab.

Jumat, 06 Maret 2009

Oemar Bakrie...

Bagi fans Iwan Fals, rasanya sudah tak asing lagi dengan salah satu lagunya yang berjudul 'Oemar Bakrie'. Liriknya yang menceritakan nasib seorang 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa', mengegelitik telinga yang mendengarnya, namun mencerminkan kehidupan sejati seorang guru di sebuah tanah khatulistiwa...

Dulu, seorang guru yang sekaligus kepala sekolah di sebuah sekolah dasar negeri di ibukota negara, mulai dari jaman kolonial sampai jaman merdeka, mesti mencari tambahan untuk membiayai lima orang anak yatimnya sebagai seorang 'chef', dari satu pesta ke pesta yang lainnya. Ini memang karena kondisi negeri yang masih susah, tak mungkin untuk membebani keuangan negara dengan penghargaan yang memadai bagi seorang guru, dan tak sampai hati bagi seorang guru dan atau seorang kepala sekolah untuk mewajibkan seragam sekolah, buku-buku pelajaran, les-les tambahan, dan lain sebagainya.

Setelah merdeka, terlebih semenjak pemerintahan 'penguasa seumur hidup', nasib guru nggak terlalu beda dengan jaman kolonial belanda atau pun jepun. Yap, mereka masih saja diposisikan sebagai si penaggung jawab terbesar kecerdasan bangsa, tapi bicara hak mereka, mereka cukup beruntung di posisi 'kalau ada sisa alokasi dana blablabla...blablabla...'

Beruntung, belakangan ini, nasib para guru mulai dapat perhatian. Bahkan banyak para guru ini mendapatkan penghargaan meningkatkan kemampuan akademisnya, dengan melanjutkan program studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya tanggungan negara *baca dana keuangan dunia yang dikelola instansi nasional*, tentunya dengan berbagai tes-tes akademis, proses birokrasi yang puaaanjaaang dan melelahkan, dan lain-lain dan lain-lain...

Alhamdulillah... demikian ungkapan syukur seorang dosen anak bangsa yang baru saja lulus tes melanjutkan program S3nya di Tsukuba University. Anehnya, ucapan syukurnya justru mencerminkan kebingungan di wajahnya. Bagaimana tidak, kelulusannya berarti ia harus melanjutkan kewajiban belajarnya selama setidaknya tiga tahun kedepan, sementara biaya pendidikannya dan biaya hidupnya selama disini yang mengandalkan kiriman beasiswa *baca dana keuangan dunia yang dikelola instansi nasional* yang baru sampai setelah berbulan-bulan *baca birokrasi puaaaanjaaaang pusat-daerah-pusat-luar negeri*.

Jika untuk dirinya sendiri saja sudah sangat terbebani, bagaimana mungkin ia bisa mengajak belahan jiwanya dan kedua buah hatinya yang masih balita untuk bisa hidup bersama di rantau seperti ini??? Dan bangaimana mungkin ia bisa berkonsentrasi untuk program studinya sebagai amanah lainnya yang harus dipikul?

Tanah airku, tanah tumpah darahku
Tanah subur, penuh luka dan benalu

Daripada pusing mikirin yang ada di depan mata, yang punya lagu Iwan fals, silahkan didengerin baik-baik lagunya Oemar Bakrie ya...

*Tulisan di atas tidak mewakili siapapun kecuali isi hati sang penulis*

Rabu, 25 Februari 2009

Ikan Berkaki

Buat para penggemar ikan atau pengamat ikan, mungkin sudah pernah melihat penampakan 'Ikan Berkaki' di berbagai situs internet ya. Nah yaang berikut ini adalah hasil pengambilan gambar ketika kami berkunjung di sebuah museum kecil di Kasumigaura Sogo Koen, Tsuchiura, Ibaraki.



Kalau ditanya nama ikannya apa? ketemunya dimana? dan lain sebagainya. Nanyanya jangan sama saya yah, soalnya saya memang nggak tahu dan nggak minat nyari tahu... Penasaran? mendingan tanya aja dech sama pakar ikan atau datang aja langsung ke sini... :D

Kamis, 19 Februari 2009

Bunyi Bel Di Malam Hari



"Ting tong...", bel rumah berbunyi. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Anak-anak yang tadi masih asyik bermain, seketika berhenti, diam, membisu...

Aku bergegas bangun dari dudukku dan segera mendekat ke pintu depan seraya berkata kepada anak-anak, "Tuuuh khan, mainnya jangan berisik sayang... Yaser, Hasya, mainnya jangan lompat-lompat ya, kasihan orang yang di bawah khan keberisikan..."

Kuintip keluar melalui lubang pintu, ada seorang wanita muda berdiri tepat di depan pintu kami.
"Donnata desuka (siapa ya)???", kataku.
"Neighbor...(tetangga)", katanya.
"Wait a moment, please...(tunggu sebentar ya)" jawabku sambil bergegas berpakaian lengkap dan membukakan pintu.

Aku keluar pintu dan segera saja anak-anakpun ikut menyerbu keluar.
"Konbanwa... (selamat malam)", sapanya sambil tersenyum.
"Konbanwa... (selamat malam)", jawabku tersenyum juga.
"I'm sorry for bothering you at this hour. I live downstairs in 705 and I've heard some noisy that brings me here... Now, I know it was these cute little kids...:)", katanya terlihat senang.

"We're very very sorry for lots of noisy... Kids, come on, say sorry honey...", kataku sambil meminta anak-anak untuk meminta maaf. "Gomen nasai...(mohon maaf)", ujar anak-anak serentak. "Daijoubu... (nggak apa-apa) It's ok... Actually, I have these for kids." Seraya ia menyodorkan dua buah coklat ukuran Large kepada anak-anak. Anak-anak menatapku, dan aku memberi tanda 'boleh'. Anak-anak langsung menerimanya sambil berkata, "Arigatou...(terima kasih)".

Akhirnya percakapan kami berlanjut dan kutahu bahwa ia adalah tetangga baruku, pelajar dari Korea. Ia dan suaminya adalah pasangan baru dan belum dikaruniai anak. Dan yang membuatku lega, ia sangat mengerti kegaduhan yang dibuat oleh anak-anak masih dalam batas wajar.

Ya, sedikit cerita tentang kebiasaan bertamu di negeri rantau. Berbeda dengan di negeri sendiri, bisa setiap waktu dan siapa saja berkunjung ke tempat kita. Di sini, untuk bertamu ke tempat seseorang tidak bisa sembarang waktu. Layaknya akan bertemu orang penting, kita harus membuat 'appointment' terlebih dahulu. Dan berkunjung di malam hari adalah hal yang tidak biasa. Andaipun ada tamu yang diluar perjanjian, menjadi pilihan tuan rumah untuk membukakan pintu atau membiarkan tamu itu pergi begitu saja karena bosan menunggu di luar.

Terkesan tidak sopan memang. Namun begitulah kebiasaannya, 'Privacy' seseorang begitu dihargai. Benar kata pepatah, "lain ladang, lain ilalang, lain negara, lain pula kebiasaannya." Dan sebagai warga yang baik, tak ada salahnya kita menghargai dan mengikuti kebiasaan-kebiasan di negeri rantau, selama tidak berbenturan dengan norma-norma agama kita tentunya.

Sabtu, 14 Februari 2009

Haruno Yukidaruma...



Ini adalah salah satu judul dari ondoku (tugas membaca di rumah) dalam pelajaran kokugo (bahasa Jepang) bagi anak kelas satu, kelasnya Irham kun. Haruno Yukidaruma dalam bahasa Indonesianya adalah Boneka Salju Musim Semi (Haru = Musim Semi, no adalah kata sambung , Yukidaruma = Boneka Salju).



Tugas membaca dengan judul ini diberikan di bulan Februari yang bertepatan dengan pergantian musim di Jepang, dari musim Fuyu (Winter=Dingin) ke musim Haru (Spring=Semi).

Yukidaruma yang biasanya dapat ditemui dan diajak bermain oleh anak-anak di musim Fuyu, akhirnya harus menghilang di musim Haru. Dan di musim Haru ini, semerbak dedaunan dan bunga-bunga sakura yang mulai bersemi akan segera menggantikan kepergiaan Yukidaruma, memberikan keceriaan baru di hangatnya mentari.

Hangatnya hari ini di kota Tsukuba, kota tempat kami bermukim, menandakan musim Fuyu telah berlalu dan berganti dengan musim Haru...
Musim yang baru, penuh kehangatan dan semangat. Ayo semangat!!!

Rabu, 11 Februari 2009

Hadiah Buku Tanda Apresiasi



Hadiah dan apresiasi bisa berbentuk apa saja. Kali ini saya mendapat hadiah berupa buku yang dikirimkan langsung oleh sang penulis buku tersebut, Tatang A. Taufik. Terima kasih banyak ya Pak atas apresiasinya dan juga perhatiannya dalam membangun motivasi bangsa...

Buku ini adalah hadiah dari keikutsertaan saya dalam Lomba Posting tentang Mendorong Kreativitas - Inovasi beberapa waktu lalu.

Buku ini tentunya akan memberikan manfaat buat saya, setidaknya bisa mengasah otak saya yang sudah lama tidak membaca buku-buku berat seperti ini. Yang jelas buku ini tidak akan menjadi ganjalan kursi kok Pak... hehehe...

Sekali lagi, terima kasih banyak Bapak Tatang atas apresiasi dan kepercayaannya.

Senin, 09 Februari 2009

Pet or Kid?

Di sebuah taman bermain, di salah satu kota besar di negeri matahari terbit. Dulu, banyak para ibu mendorong kereta bayi, saling bersapa, dan berbicara tentang bayi-bayi mereka. Sekarang, banyak para ibu menggenggam tali pengikat hewan peliharaan mereka sambil sesekali berlari kecil mengikuti peliharaan mereka itu...

Terkesan sebuah kewajaran, tetapi sesungguhnya ada sebuah pergeseran nilai, dulu dan sekarang. Ada pergeseran pola pikir dan pola pandang tentang 'Anak' dan 'Hewan Peliharaan'.

Menurut seorang teman yang pernah meneliti tentang hal ini, banyak para ibu disini berpendapat bahwa mereka lebih memilih untuk memelihara seekor anjing daripada memelihara seorang anak. Mengapa? Karena seekor anjing bisa diperlakukan sekehendaknya daripada seorang anak. Memelihara anak adalah suatu hal yang merepotkan!

Mereka bahkan rela mengeluarkan sekian banyak biaya, mulai dari 'pet diapers', 'pet food', 'pet tools', 'pet bed', 'pet bath', sampai pada 'pet stationaries' untuk seekor hewan peliharaan (yang umumnya adalah anjing). Dan bila dikalkulasikan, biaya bulanan untuk seekor anjing jauh lebih mahal daripada biaya seorang anak manusia.

Saya pribadi melihat hal ini sebagai suatu keprihatinan. Jika pemikiran ini terus terpatri dan menjadi pemikiran yang dibenarkan secara umum, bukanlah tidak mungkin suatu saat nanti akan terjadi kelangkaan 'anak manusia' bahkan mungkin kepunahan. Dan lebih jauh lagi, kelangsungan sebuah bangsa akan terancam...

Bagaimana menurut Anda, pilih Anak atau Anjing???

Selasa, 06 Januari 2009

Perang

Siapa yang tidak miris, geram, dan berbagai rasa galau melihat pemberitaan akhir-akhir ini. Perang, selalu membawa penderitaan dan kesengsaraan. Ironisnya, selalu masyarakat sipil yang menjadi korbannya, anak-anak dan wanita... :(

Begitu besarnya 'kepentingan' yang ada dibalik skenario 'perang' ini hingga mampu melibas apapun yang ada di depannya. Mampukah kita menghindarinya? Haruskah kita lari dari perang ini?

Jangan takut dan janganlah gentar!!! Hadapi dan lawan perang ini dengan perang yang sesungguhnya. Berperanglah dalam berbagai aspek kehidupan, dalam berbagai bidang yang kita geluti, dalam berbagai cara yang bisa kita lakukan, dengan semata hanya karena Nya.

Berperanglah di jalan Alloh SWT, dengan melawan hawa nafsu, melawan rasa malas, melawan kebodohan, kemiskinan, angan-angan, melamun, berprasangka buruk, putus asa, dan kebiasaan-kebiasaan yang mendatangkan kerugian dan membuang-buang waktu.

Saat segala daya dan upaya dikerahkan, dan pada akhirnya dipasrahkan kepada Nya dengan berdoa dan berdoa, niscaya Dia akan menjawabnya dengan jawaban yang tak terbayangkan akal pikiran manusia. Saat ini atau di kemudian hari, pasti!!!

"Dan janganlah menyangka kamu sekalian kepada orang-orang yang dibunuh di jalannya Alloh SWT itu mati, bahkan hidup mereka disisi Rabnya dengan diberi rezki. Maka bersenang-senang mereka dengan apa-apa yang Alloh berikan dengan keutamaan (mati syahid), dan memberi khabar gembira mereka kepada orang-orang yang belum menyusul mereka (untuk mati syahid), mereka tidak khawatir dan tidak susah (di surga)."
QS. Ali Imron : 169 - 171.

"... Adapun orang yang berperang adalah orang yang berperang pada dirinya."
HR. Tirmidzi Kitabul Jihad.

"Jangan berharap bertemu (musuh) kamu, maka jika bertemu kamu pada mereka maka bersabarlah." HR. Bukhori Kitabul Jihad.

Do'a Nabi Muhammad SAW ketika berperang,
"Allohumma munzilal kitaab, sarii'al hisaab, ihzimil ahzaab. Allohummah zimuhum wa zalzilhum."
Ya Alloh dzat yang menurunkan kitab, dzat yang mengitungnya cepat, kalahkanlah pasukan kafir. Ya Alloh, larikanlah mereka dan goncangkanlah mereka.
HR. Tirmidzi Kitabul Fadhoilul Jihad