Kamis, 15 Januari 2009

Sebuah Kesempurnaan...

Ada sebuah keheranan saat aku baru tiba disini beberapa tahun lalu. Seorang tuna netra bisa berjalan-jalan sendirian ke kampus, ke taman, ke mall, menyeberang jalan atau tempat-tempat lainnya, tanpa pendamping!!! Mungkin bagi banyak orang, ini adalah hal yang biasa, tetapi buatku ini sungguh hal yang luar biasa.

Disini, seorang tuna netra bisa dengan leluasa beraktifitas. Lihat saja berbagai kesiapan infrastruktur yang dirancang dan dibangun pemerintah. Ditambah lagi kesadaran dari berbagai pihak atau bahkan bisa dibilang kesadaran dari masyarakat secara umum dalam menyikapi keberadaan para tuna netra ini.

Contoh kecil saja yang sering saya lihat di tempat-tempat umum, seorang tuna netra dibimbing oleh seorang petugas pusat belanja yang penuh kesabaran dan dedikasi, ke sebuah tempat pemberhentian bis. Setelah memberikan infomasi secukupnya, petugas tadi meninggalkan si tuna netra tadi untuk dapat melanjutkan aktifitasnya sendiri.

Di dalam bispun sebagai sarana transportasi umum, si tuna netra tadi merasa nyaman. Dengan disediakannya kursi khusus bagi penyandang tuna netra, pak supir pun dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab selalu mengumumkan tempat-tempat pemberhentian yang telah disinggahi sehingga siapapun bisa dengan jelas mengetahui posisi bis tersebut dan kapan harus memberitahu pak supir untuk turun, dengan cukup menekan bel yang tersedia di setiap sudut bis.

Kondisi tersebut mengingatkan aku dengan kondisi para tuna netra di sebuah kampung di daerah Manukan Krajan, Surabaya, puluhan tahun silam. Kondisi yang tentunya sungguh berbeda dengan yang kulihat disini.

Ada sekitar sepuluh orang tuna netra yang selalu rajin mendatangi sebuah musholla sekaligus tempat belajar membaca dan menghafal ilmu agama, Al Qur-an dan Al Hadist.

Bukan hal mudah bagi mereka untuk mencapai musholla ini, melihat kondisi musholla yang berada di pelosok kampung dan infrastuktur yang sangat jauh dari memadai (harus melalui beberapa gang sempit yang berpasir dan berlubang).

Tetapi kondisi ini tidak membuat mereka patah semangat apalagi putus asa. Mereka bahkan begitu antusias dan serius dalam mendatangi musholla ini secara rutin setiap seminggu dua kali, dan dengan serius pula mengikuti bimbingan dari beberapa kyai yang dengan penuh kesabaran dan teliti mengajari mereka, membimbing tangan mereka menelusuri huruf-huruf 'braille', lembar per lembar. Sungguh, bagiku sebuah pemandangan yang mengharukan...

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil hikmahnya, untuk kita jadikan peringatan. Orang yang secara fisik buta matanya , tetapi secara mental memiliki cahaya mata hati yang begitu bersinar. Orang yang sepertinya lemah dan tidak sempurna, tetapi justru memiliki kesempurnaan hati yang mampu membangun kesadaran tinggi akan pentingnya mencari ilmu, kemauan keras untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan, dan keseriusan, tidak main-main atau setengah-setengah dalam menjalani apa yang sudah menjadi jalan mereka.

Jadi, jika kita telah diberikan nikmat sebagai manusia yang diciptakan sempurna secara fisik, bukankah seharusnya memiliki kesempurnaan hati yang mampu memberikan nilai-nilai positif di diri kita dan ataupun orang-orang yang berada di sekitar kita???

(sebuah kunjungan penuh makna, Surabaya, 2000)

2 komentar:

tatang mengatakan...

Setalah melalui perjalanan internet yang "lelet" akhirnya sampai juga di sini . . .
Saya catat ya Umi . . . Terimakasih & Salam.

Anonim mengatakan...

Tulisan yang menarik sekali. Salam hormat (QZ)