Jumat, 23 Mei 2008

Oregano Bread



Gara-gara ada yang 'ngambek' nggak kebagian roti tawar pas sarapan pagi, bela-belain dech bikin roti tawar sendiri. Habis kalo beli lagi, nanti ada yang nggak kebagian lagi...:)



Resepnya beda dengan yang disini. Aku nyoba resepnya 'Roti Tawar Susu'. Lumayan ngejelimet sich, tapi penasaran mau nyoba. Pas jadi, ternyata bisa untuk 2 loyang. Waah, kebetulan dech, yang ukurannya agak kecil pas banget untuk 'Oregano Bread'...ehhmm...nyam...nyam...nyam...

Bahan :
500 gr tepung prot. tinggi
50 gr gula pasir
30 gr susu bubuk (punya Hasya)
10 gr ragi instant
6 gr bread improver (bisa diganti dgn ragi instant)
6 gr garam
1 bh kuning telur
240 ml susu cair
35 gr margarin/butter

Cara Membuat :
1. Campur rata semua bahan kering (kecuali garam) dengan whisker.
2. Masukkan kuning telur dan susu cair, uleni rata.
3. Tambahkan garam dan margarin, uleni hingga kalis.
4. Bulatkan, tutup dgn wrap, biarkan mengembang 30 menit.
5. Kempiskan adonan supaya gasnya keluar, timbang sesuai ukuran loyang.
6. Bulatkan, tutup lagi, biarkan mengembang 15 menit.
7. Gilas adonan, gulung, rapikan, tutup kembali, diamkan 15 menit.
8. Lakukan No. 7 sekali lagi.
9. Siapkan loyang, olesi margarine dan taburi tepung terigu.
10. Masukkan adonan yang sudah digulung kembali, tutup, diamkan 75 menit.
11. Preheat oven 180 C selama 15 menit.
12. Oven adonan 150 C selama 30 menit, keluarkan dari oven, biarkan hangat.
13. Keluarkan dari loyang, letakkan di atas rak, biarkan dingin sempurna.
14. Potong-potong sesuai selera.
15. Olesi margarin/butter, taburi oregano kering, oven pilih menu toast.
16. Siap dihidangkan dengan mayonaise dan sambal botolan.

Catatan :
*Penggilasan dilakukan supaya gas keluar dan tekstur roti tidak ber-rongga.
*Tanda roti telah matang, setelah dikeluarkan dari oven, ketuk-ketuk loyangnya maka loyang terasa hampa (ada suara bergema).
*Tunggu dingin seluruhnya supaya ketika dipotong tidak merotol (apa ya bahasa Indonesianya?:D)

Belajar Mandiri

Mendekati usianya yang hampir dua tahun, Hasya sudah semakin mandiri. Tidak hanya sudah mulai memakai sepatu sendiri, tetapi juga belajar makan sendiri tanpa 'berantakan'...:D



Tuuuh, lihat aja gayanya yang semakin terbiasa dengan kemampuannya sendiri. Nggak perlu disuapi Umi lagi, dan nggak perlu cepat-cepat makannya. Biar belakangan selesainya, yang penting Hasya bisa 'mamam' sendiri...:D

Kata Yaser : Ayo Hasya, cepetan makannya, ntar aku yang makan nich...
(Sambil siap-siap deketin Hasya, nunggu ada yang jatuh di meja...:D)
Kata Hasya : Nggak...nggak...punya aku...
(Sambil cepat-cepat masukin makanannya ke mulut trus pindah posisi...:D)

Senangnya lihat anak-anak semakin mandiri...
Ayo Hasya, kamu pasti bisa!!!

Kamis, 22 Mei 2008

Kasih Sayang Seorang Ibu

"Kasih Ibu kepada beta... Tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi... Tak harap kembali... Bagai sang surya menyinari dunia..."
Masih ingat khan lagu anak-anak jadul, yang buatku nggak pernah 'outdate'...

Bait kata-kata dalam lagu itu, pas sekali untuk mencerminkan kasih sayang seorang Ibu. Memang kasih sayang Ibu takkan pernah bisa terkikis oleh jarak dan waktu. Sejak dalam kandungan, ketika melahirkan, merawat, membesarkan dan pada akhirnya seorang ibu harus ditinggalkan sang anak, kasih sayang itu akan tetap melekat.

Sungguh bijak dan tepat bahwa Nabi kita Muhammad SAW, menempatkan Ibu sebagai sosok yang berhak dipergauli dengan sebaik-baiknya budi pekerti. Bahkan seandainya seorang laki-laki yang menaikkan haji Ibunya dengan memanggul sang Ibu di atas pundaknya, itu takkan pernah bisa menyamai 'satu sikutan' si laki-laki ketika masih dalam kandungan...

Jadi, seandainya ada seseorang yang ingin menghitung kasih sayang seorang Ibu, dan mengkonversikannya ke dalam nilai nominal, ya silahkan saja menggunakan rumus matematika yang paling jitu. Dijamin, hasilnnya takkan pernah bisa seimbang...:)

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi, siapakah yang berhak diperbagusi pergaulannya Nabi? Jawab Nabi, Ibumu...Siapa lagi Nabi? Jawab Nabi, Ibumu... Siapa lagi Nabi? Jawab Nabi, Ibumu...(sampai tiga kali). Kemudian siapa lagi Nabi? Jawab Nabi, Bapakmu...
(Dari Abi Huroiroh, Riwayat Bukhori Kitabul Adab)